Berawal Dari Rasa Penasaran

Ketika Media Semakin Tidak Berimbang Soal FPI

Seperti sebuah gerakan dengan satu komando, dalam hitungan jam media-media masa baik yang mainstream maupun yang lagi merangkak ramai-rama gencar memberitakan tentang pembubaran Front Pembela Islam (FPI).

Sebelum menyampaikan tulisan ini, saya ingin menyampaikan satu hal yang harus digaris bawahi oleh para pembaca. Bahwa, saya tidak sedang membela FPI maupun menyerang media. Saya hanya ingin menyampaikan rasa ketidakpuasan saya terhadap media, khususnya media-media besar yang cenderung tidak independen dan berimbang dalam menyampaikan berita.

Disadari atau tidak media memberikan pengaruh terhadap pesan moral, wawasan, dan sudut pandang Masyarakat. Namun sepertinya seolah ada pemanfaatan untuk pengaruh yang terakhir saya sebutkan.

Medianya tidak fair, FPI di bombardir secara sepihak untuk mengarahkan dan menggerakan pada satu opini yang negatif. Masyarakat sama sekali tidak akan pernah melihat satu sisi positifnya (yang menurut mereka itu memang tidak ada) karena terus dijejali oleh pemberitaan yang tidak berimbang.  Pemberitaan yang pesan kebencianya  melebihi apa yang dituduhan kalau FPI penyebar kebencian dan kekerasaan.

Pendapat-pendapat para tokoh yang dikutip-pun adalah pendapat tokoh-tokoh yang cenderung memang tidak suka dengan adanya FPI, terlepas itu terkait dengan masalah kekerasan atau bukan. Yang lebih lucu lagi ketika pendapat sang tokoh tersebut dikutip sepotong-sepotong. Kutipan tersebut cenderung lebih mengarahkan masyarakat untuk semakin membenci FPI. Kenapa tidak dimintai pendapat tokoh netral dan pendapatnya tidak membuat  masyarakat tergerak untuk konflik horisontal ?.

Kalau terjadi konflik horisontal dengan korban yang tidak sedikit lalu siapa yang salah, FPI kah sebagai subjek yang disorot hanya sisi negatifnya ?, Media kah yang mengaduk-ngaduk semuanya menjadi riuh ?, atau tokoh yang pendapat negatifnya dikutif oleh media ?.

Berbicara Kekerasan

Hal yang paling dijadikan alasan keinginan untuk membubarkan FPI adalah isu kekerasan. Kekerasan mana yang begitu membuat FPI terkesan lebih seram dari kelompok-kelompok yang berebut lahan parkiran ?.

Seharusnya kalau media mau menghiperbolakan isu pembubaran ormas yang identik dengan kekerasan maka bukan hanya FPI yang harus dibubarkan, dan bukan hanya FPI yang jadi bulan-bulanan media. Ada ribuan ormas yang harus “digulung”, yang lebih keras dan mungki bagi Anda sebetulnya lebih meresahkan  dibanding FPI. Tapi itu tidak pernah diangkat, entah karena apa alasannya.

Kalau FPI kisruh maka dalam beritanya nama “FPI” disebutkan dengan jelas dan di tulisan dengan kontras. Tapi kalau ada ormas lain yang “murni premanisme” rusuh, media hanya menyebut “Sebuah Ormas” dalam pemberitaanya, cenderung enggan menyebutkan nama ormasnya. Why ?

Headline beritanya “Pembubaran Ormas-ormas Anarkis”, tapi kontennya FPI semua. Sedangkan setahu saya kalau sudah ada pengulangan kata subjek, itu artinya sudah lebih dari satu (majemuk). Lalu siapa saja ormas-ormas tersebut ?, kenapa Cuma FPI yang di ekspos ?.

Berapa banyak sih jiwa  yang menjadi korban FPI ?. Lalu bandingkan berapa banyak korban narkoba dan miras yang sekali ngefek bisa menyebabkan belasan orang tewas seketika ?. Kenapa begitu banyak tempat hiburan yang menjadi basis penghancuran generasi bangsa, yang lebih mengancam kehadirannya dibanding FPI Anda diam saja ?, sementara FPI berusaha membersihkan sampah-sampah tersebut dengan caranya sendiri pemberitaan miringnya begitu luar biasa. Anda punya cara yang lebih sederhana dan efektif ?. Lakukanlah itu.

Lalu apa yang sebenernya Anda bela ?. Generasi bangsa atau kepentingan-kepentingan kelompok tertentu yang tidak peduli tentang hari esok negeri ini, yang penting mereka untung, dan mereka merasa kehadirannya terganggu oleh FPI ?

Adanya FPI bukan tanpa sebab, begitupun dengan kekerasan yang dilakukan oleh FPI saat menggeruduk tempat-tempat maksiat. Tidak kah Anda khawatir kalau kelak anak-anak Anda menjadi bagian dari lingkaran kemaksiatan ?, Apakah Anda ingin setelah meninggal maka anak Anda tidak pernah mendoakan Anda karena anak Anda sedang sibuk maksiat di tempat maksiat ?. Lalu alasan apa yang harus memperbolehkan kita akan adanya tempat maksiat ?.

FPI tidak akan ada kalau tidak ada yang mengharuskan FPI ada, ditambah lagi ketika para abdi negara ini tidak mampu menjadi abdi yang amanah dan bertanggungjawab.

Ketika terjadi demo-demo anarkis di depan gedung MPR/DPR, yang jadi korban kerusakan adalah fasilitas gedung seperti pagar, gerbang, dan lain sebagainya yang tidak lain dibangun dari uang rakyat, tapi tidak ada yang teriak-teriak menganggap itu meresahkan dan merugikan. Padahal nantinya uang rakyat lagi yang digunakan untuk memperbaikinya. Okey, mungkin itu karena dianggap “dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat”.

Tapi kemudian ketika FPI merusak tempat-tempat maksiat yang TIDAK DIBANGUN dari uang rakyat, sepertinya begitu banyak orang-orang yang menganggap itu sebagai sesuatu yang meresahkan. Resahnya seperti melebihi uang rakyat yang terus dikuras. Siapa sih sebenranya yang Anda bela ?, masyarakat atau yang punya tempat maksiat ?.

Atau jangan-jangan media-media sendiri merasa terancam eksistensi “kapitalis dan liberalisme”  bisnisnya sehingga sampai harus meletakan dasar-dasar jurnalisme yang semestinya independen dan berimbang, bukan mengarahkan masyarakat pada satu pendapat kepentingan.

Tidak Adakah Satu Kebaikanpun ?

26 Desember 2004, Bumi Nangroe dihempas tsunami dan gempa bumi 9,3 SR. Hampir 130 ribu jiwa masyarakat Aceh yang meninggal dunia. Mengingat banyaknya korban jiwa, jenajahpun dimakamkan secara masal kedalam liang lahat yang sama. Di beberapa proses pemakaman, nyaris tidak seperti pemakaman layaknya manusia yang meninggal. Bisa dimaklumi memang, karena kondisi yang kurang memungkinkan, dan Agamapun memaklumi itu.

Tapi ada beberapa kelompok relawan yang berusaha “memanusiakan” jenajah-jenajah tersebut. Tidak hanya sekedar membantu pencarian jenajah, tapi jenajahnya pun dimandikan, dibersihkan, dikafani, dan bahkan disholatkan. Salah satunya adalah tim relawan FPI.

Tanpa rasa jiijik ataupun kekhawatiran timbulnya penyakit akibat terkena kulit jenajah yang mengelupas, dengan sigap mereka lindungi hak-hak manusia meskipun sudah tinggal raga.

Sobat-sobat tidak tahu tentang ini ?

Wajar saja, karena media-medianya memang begitu benci terhadap FPI, dan sudah barang tentu enggan memberitakan sisi hal ini.

Lalu kenapa FPI nya sendiri tidak menyebar luaskan aktivitas ini ?

Kalau sudah Lillahita’ala, mungkin publikasi tidak lagi penting. Kalaupun FPI melakukan publikasi sudah pasti gaungnya tidak ada selantang suara media.

Mungkin ada yang ingin mengatakan “siapa sih sebenarnya media-media tersebut ?”. Tidak perlulah Anda mempertanyakan hal itu, kecuali kalau Anda ingin menjebak saya dalam pusara hukum yang sudah berada di pihak yang sudah bisa ditebak.

Yang lucu laginya begini, media-media tersebut berkedok independen dan berimbang, bahkan sangat melarang hal-hal yang berbau SARA. Tapiiiiii……, mereka begitu bersemangat kalau memberitakan hal-hal yang bebau perselishan SARA, selanjutnya membiarkan para pembacanya berselisih, berdebat, dan bertengkar di kolom komentar beritanya tanpa moderasi.  Media macam apa ini kalau hanya menjadi fasilitator konflik dibanding pemersatu ?. Terus dengan seenaknya bilang “Itu Diluar Tanggung Jawab Kami”.

Kontradiksi Antara Kebenaran Hakikat dan Kebenaran Prosedural (Disarikan dari EraMuslim)

Dari beberapa konten media, saya berasumsi kalau mediapun memiliki banyak kepentingan. Entah itu ideologi, politik, ekonomi, ataupun bisnis dan lain sebagainya. Perlu diketahui juga bahwa karakter awak media akan sangat mempengaruhi karakteristik wajah media tersebut. Sederhananya, kalau kita melihat “siapa orang dibalik layarnya ?”, maka terbayang sudah akan seperti apa sudut pandang media masanya.

Kalau menurut Eramuslim :

“Seorang muslimkah dia, liberal, agnostik, kejawen dan sebagainya, akan mempengaruhi berita-berita yang disuguhkan.

Pembaca pun hanya menjadi penonton, yang jika tidak hati-hati dan cerdas, akan terhanyut dan terombang-ambing dalam pusaran informasi yang begitu deras dan terbuka. Independensi media massa pun dipertanyakan”

Jika kita melihat sisi hakikat yang dilakukan FPI, maka kebenaran yang diusung tidak terbantahkan. Misalnya begini, Anda atau Saya pasti akan setuju kalau minuman keras, prostitusi, perjudian dan sejenisnya adalah hal-hal yang merugikan dan tidak bermanfaat. Lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya. Tidak perlu lah sampai ditanya berapa banyak bukti kehancuran akibat perbuatan-perbuatan tersebut. Kecuali bagi penganut adanya “kebenaran relatif”, sudah barang tentu hal-hal tersebut tidak berlaku.

Apa yang dilakukan FPI secara hakikat adalah benar, karena mereka berusaha menghilangkan penyakit sosial masyarakat yang sudah endemik. Kekerasan yang mereka lakukan biasanya menjadi pilihan terakhir, karena adanya kelompok penentang. Pun hingga saat ini, kekerasan itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Bandingkan dengan kekerasan di daerah, misalnya Ambon, Poso, Bima, Makassar dan lainnya sebagainya, yang menyebabkan korban meninggal dunia. Kebenaran hakikat yang diyakini FPI bertabrakan dengan kebenaran prosedural yang ditetapkan dalam kehidupan masyarakat.

Ambil contoh kasus Perda Miras yang ramai beberapa waktu lalu. Kementerian Dalam Negeri berdalih Perda-perda Miras bertentangan dengan Keputusan Presiden Nomor 3 tahun 1997. Oleh sebab itu, muncul wacana pencabutan Perda-perda tersebut.

Secara prosedural perundang-undangan, upaya Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi benar untuk mencabut Perda-perda tersebut. Tapi, secara hakikat, dia akan bertabrakan dengan kebenaran hakikat tadi yang tidak bisa terbantahkan.

Inilah contoh kasus yang menyebabkan lahirnya kelompok-kelompok seperti FPI. Selama kebenaran prosedural tidak berdasarkan kebenaran hakikat, maka akan selalu lahir generasi serupa. Dan, bagi mereka yang sungguh-sunggu memerangi FPI dikhawatirkan terjangkit penyakit Islamophobia yang wabahnya sudah mendunia, dan itu tidak terlepas dari tindak-tanduknya media.

Open your mindset, open your eyes !.

Mungkin akan ada yang merasa tidak suka dengan tulisan ini. Itu sah-sah saja dan wajar tentunya. Sewajar saya yang merasa kalau media semakin tidak berimbang  tentunya. Media punya hak memberitakan, organisasi punya hak untuk dibentuk, dan sayapun punya hak untuk berpendapat. Terlepas dari Anda sukai ataupun tidak. Selebihnya, saya mengucapkan mohon maaf kalau ada kekeliruan dalam opini saya ini, dan juga mohon maaf kepada yang mungkin merasa dirugikan.

Sekali lagi saya tidak sedang membela FPI, karena saya juga tahu kalau kedamaian itu lebih baik dari kekerasan. Saya hanya berharap mudah-mudahan media bisa lebih berimbang dalam menyajikan pemberitaan.

Tulisan yang mungkin ada kaitannya :

  1. Ketika Yang Tidak Lulus Lebih Tersenyum Dari Yang Lulus
  2. Ketika Guru Mata Pelajaran Berkata Cinta
  3. Ketika Blogger Dizolimi
  4. Masa Lalu Yang Tidak Mau Berlalu
  5. Mengapa Saya Tidak Merokok ?

24 Comments

  1. Status ganda ya, satu sisi no sara, atu sisi lempar bola salju…. :cd

    • Yaaaa… begitulah Kang, tidak mencerdaskan… yang ada menuntut kita harus cerdas dalam memilah berita. Bahaya buat yang awam. :hammer

  2. ass. Adakalanya berita buruk menjadi berita baik buat media, lantaran bakal ‘dilahap’ pembaca. Bombardir media terhadap isu ‘hot’ FPI barangkali ujung dari ketidakpuasan beragam pihak terhadap tindaklanjut ‘keganasan’ FPI dalam peng’hakiman’ substansi berbau maksiat Hemat saya, koran nasional maupun berita teleivis punya alasan kuat memberitakannya berulangkali, termasuk dg multiangle (dg tetap memuat sanggahan dan tindaklanjut pelaporan ke Polri oleh habib rizieq). Muara permasalahan, muncul pasca penolakan masyarakat dayak Kalteng, terhadap organisasi FPI yg siap ‘terbang’ di Bumi Tambun Bungai. “Kekhawatiran’ masyarakat dayak, kemunculan FPI malah menjadi pemicu konflik horizontal, masa mendatang, toh selama ini tanpa kehadiran FPI, Kalteng ditengah masyarakat majemuknya (Islam, Kristen, Kaharingan)hidup dalam kedamaian. Titik balik persoalan ini, boleh jadi ada yang murni untuk tujuan kemaslahatan, namun tak menutup kemungkinan ‘ditunggangi’ pula pihak tertentu yang menjadikan asap isu kian melebar. Semua terpulang kepada masing-masing pihak menyikapi ini. FPI bisa saja di banyak hal memberi arti dan ‘sumbangan’ luarbiasa terhadap antisipasi kemaksiatan, tetapi FPI bisa pula berbuat lebih sekadar organisasi ‘penyelamat’ karena akibat ulah oknum-oknumnya menjadikan subjek, bak pepatah: ……. rusak susu se-belanga….ini hanya sekadar share, karena saya termasuk berlangganan blog sampeyan. mohon ampun maaf, jika salah khilaf. wass

    • Walaikumsalam Mas Ibnu… :)

      Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih banyak karena Mas Ibnu sudah berkenan menjadi subscriber blog saya yang alakadarnya ini. Kemudian saya juga berterimakasih sekali atas komentar Mas Ibnu yang begitu santun dan cerdas (kaya jargon partai aja “santun dan cerdas”, heheheeee).

      Apa yang Mas Ibnu sampaikan sangatlah berimbang dan banyak benarnya, dan bisa jadi jauh lebih baik di banding postingan saya yang sedikit banyaknya cenderung mengandung “protes sekaligus harapan keberimbangan terhadap media”. Andaikan saja media lebih FAIR, mungkin seperti yang Mas Ibnu katakan tadi (“Semua terpulang kepada masing-masing pihak menyikapi ini), maka kitapun bisa berimbang dalam menyikapinya. Kalau FPI “digulung” ya berarti ormas-ormas atau kelompok lain yang sebetulnya meresahkanpun seharusnya digulung. Semuanya konkrit dan adil, tidak karena pragmatis semata. Tapi itulah sayangnya Mas, kalau mau memperhatikan lebih jeli media-media kita (sampai ke orang-orang dibaliknya), maka bukan lagi FPI yang akan jadi bulan-bulanan, tapi Agama. Hanya memang cara mereka mengemas begitu cerdik dan rapih, Luar Biasa. :)

      Demikian Mas Ibnu, sama seperti postingan diatas, sayapun mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekeliruan dan kesalahan saya. :)

      Salam, semoga Mas Ibnu dan Keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT

  3. Wah, baca postingan ini…kepala saya agak berat rasanya. Media, sudah memenangi medan perang dimana saja. Siapa yang ingin menang perang harus bisa menguasai media.

    Ingat jaman ORBA, bagaimana kita bisa hidup lebih tenang dan nyaman, karena penguasa bisa mengendalikn media dan mengontrolnya. Anarkisme di suatu tempat tidak akan menjalar ke tempat lain. Tetapi begitu keran kebebasan dibuka, lho kok malah jadi kebablasan.

    Menurut Soeharto (1998), di era informasi, kekuasaan bukan ditegakkan dengan kekuatan militer dan senjata, melainkan dengan kekuatan informasi. Pers, kata presiden terlama di Indonesia itu, mempunyai kekuatan tersebut. Tetapi, pers di Indonesia banyak dipengaruhi sistem media massa global yang komersial. Karena itu, ia minta agar dibuat kode etik jurnalistik untuk media siaran televisi dan radio.

    Tahun 1999, Presiden BJ Habibie, di Istana Negara, Jakarta, mengatakan, tidak mungkin demokrasi dibangun tanpa kemerdekaan pers. Namun, ia meminta agar pers jangan menyiarkan berita dusta dan fitnah yang bisa menimbulkan keresahan dan kekacauan masyarakat.

    Tahun 2000, di Solo, Jawa Tengah, Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri minta agar pers nasional tidak hanya menyiarkan berita obyektif dan tidak memihak. Itu tidak cukup. Pers harus bisa ikut mencegah kekerasan.

    Tahun 2002, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Megawati yang sudah menjadi presiden meminta agar pers nasional jangan hanya bisa mengkritik dan memberikan solusi atas persoalan. Pers, katanya, perlu bersedia menjadi pelaksana untuk membuktikan kebenaran dan keandalan dari alternatif yang ditawarkan. Tahun 2003, di Denpasar, Megawati menyerukan kepada masyarakat untuk bersikap kritis kepada pers yang semena-mena.

    Belum genap seminggu lalu, mereka merayakan Hari Pers Nasional 2012. Majelis Permusyawaratan Rakyat merespon peringatan Hari Pers Nasional ini. MPR berharap pers nasional mampu kembali kepada independensinya (pengakuan bahwa Pers TIDAK INDEPENDEN).

    “Memperingati Hari Pers Nasional (HPN) ke-27, kita semua dan insan pers khususnya, harus mampu mengembalikan independensi pers. Kini pers telah jadi industri. Liberalisasi ekonomi melanda dunia penyiaran kita. Ini tantangan terbesar. Negara dan penggiat pers sendiri harus mampu mengaturnya secara berkeadilan”. Saat ini banyak lembaga penyiaran dimonopoli kepemilikannya. Sehingga frekuensi publik yang hakekatnya milik bersama juga didominasi. Akibatnya, terjadi sentralisasi konten yang bias Jakarta. Rating, iklan, semuanya ditentukan selera pusat.

    “Juga marak tayangan sadisme, kekerasan, pornografi, yang diumbar tanpa saringan yang penjelasan yang memadai. Liberalisasi konten sepertinya tanpa kendali.

    Kalau Anda mempunyai perasaan seperti itu, maka hampir semua kita juga…pasti ada aktor yang berperan, yang merasa dirugikan.
    Memang kebenaran itu, datangnya pertama kali akan dianggap asing…setelah itu akan menjadi asing kembali, karena…..

    Bila independensi dan kejujuran menulis berita, apalagi sudah dibumbui OPINI penulis, yang kita tdk tahu latar belakangnya…ya pasti RUNYAM seperti yang anda tulis. Akhirnya yang menang adalah popularitas bertita.

    Salam Takzim,
    Bagus H. Jihad

    • Wah, baca postingan ini…kepala saya agak berat rasanya. Media, sudah memenangi medan perang dimana saja. Siapa yang ingin menang perang harus bisa menguasai media.

      Ingat jaman ORBA, bagaimana kita bisa hidup lebih tenang dan nyaman, karena penguasa bisa mengendalikn media dan mengontrolnya. Anarkisme di suatu tempat tidak akan menjalar ke tempat lain. Tetapi begitu keran kebebasan dibuka, lho kok malah jadi kebablasan.

      Menurut Soeharto (1998), di era informasi, kekuasaan bukan ditegakkan dengan kekuatan militer dan senjata, melainkan dengan kekuatan informasi. Pers, kata presiden terlama di Indonesia itu, mempunyai kekuatan tersebut. Tetapi, pers di Indonesia banyak dipengaruhi sistem media massa global yang komersial. Karena itu, ia minta agar dibuat kode etik jurnalistik untuk media siaran televisi dan radio.

      Persis Om kata Guru Sejarah waktu SMA : “Kuasai Media, maka kamu sudah jadi penguasa”. Dan bagaimanapun saya acungi jempol buat Pak Harto, yang mampu jadi pengendali media untuk ketenteraman meskipun tidak memiliki media. Mungkin salah satunya dengan menempatkan Harmoko di Menpen saat itu. Beda dengan sekarang, belum jadi penguasa negara tapi karena sudah jadi penguasa media maka situasipun seenaknya diobok-obok.

      Menurut Soeharto (1998), di era informasi, kekuasaan bukan ditegakkan dengan kekuatan militer dan senjata, melainkan dengan kekuatan informasi. Pers, kata presiden terlama di Indonesia itu, mempunyai kekuatan tersebut. Tetapi, pers di Indonesia banyak dipengaruhi sistem media massa global yang komersial. Karena itu, ia minta agar dibuat kode etik jurnalistik untuk media siaran televisi dan radio.

      Saya tidak yakin, kalau kode etik jurnalistik saat ini benar-benar dipakai. Malah kebebasannya cenderung disalahgunakan, terutama secara politis dan masalah independensi.

      Tahun 1999, Presiden BJ Habibie, di Istana Negara, Jakarta, mengatakan, tidak mungkin demokrasi dibangun tanpa kemerdekaan pers. Namun, ia meminta agar pers jangan menyiarkan berita dusta dan fitnah yang bisa menimbulkan keresahan dan kekacauan masyarakat.

      Tahun 2000, di Solo, Jawa Tengah, Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri minta agar pers nasional tidak hanya menyiarkan berita obyektif dan tidak memihak. Itu tidak cukup. Pers harus bisa ikut mencegah kekerasan.

      Tahun 2002, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Megawati yang sudah menjadi presiden meminta agar pers nasional jangan hanya bisa mengkritik dan memberikan solusi atas persoalan. Pers, katanya, perlu bersedia menjadi pelaksana untuk membuktikan kebenaran dan keandalan dari alternatif yang ditawarkan. Tahun 2003, di Denpasar, Megawati menyerukan kepada masyarakat untuk bersikap kritis kepada pers yang semena-mena.

      Belum genap seminggu lalu, mereka merayakan Hari Pers Nasional 2012. Majelis Permusyawaratan Rakyat merespon peringatan Hari Pers Nasional ini. MPR berharap pers nasional mampu kembali kepada independensinya (pengakuan bahwa Pers TIDAK INDEPENDEN).

      Hemmmmmh…. pengakuan yang sama halnya dengan BUKTI kalau independensi pers saat ini mengkhawatirkan :(

      “Memperingati Hari Pers Nasional (HPN) ke-27, kita semua dan insan pers khususnya, harus mampu mengembalikan independensi pers. Kini pers telah jadi industri. Liberalisasi ekonomi melanda dunia penyiaran kita. Ini tantangan terbesar. Negara dan penggiat pers sendiri harus mampu mengaturnya secara berkeadilan”. Saat ini banyak lembaga penyiaran dimonopoli kepemilikannya. Sehingga frekuensi publik yang hakekatnya milik bersama juga didominasi. Akibatnya, terjadi sentralisasi konten yang bias Jakarta. Rating, iklan, semuanya ditentukan selera pusat.

      Mudah-mudahan masih ada media yang tetap bisa menjadi harapan ya Om, yang tidak hanya mengejar keuntungan semata. Makin mengkhawatirkan lagi saat beberapa media di kuasai oleh satu payung korporat dan satu genggaman kepemilikan

      “Juga marak tayangan sadisme, kekerasan, pornografi, yang diumbar tanpa saringan yang penjelasan yang memadai. Liberalisasi konten sepertinya tanpa kendali.

      Kalau Anda mempunyai perasaan seperti itu, maka hampir semua kita juga…pasti ada aktor yang berperan, yang merasa dirugikan.
      Memang kebenaran itu, datangnya pertama kali akan dianggap asing…setelah itu akan menjadi asing kembali, karena…..

      Bila independensi dan kejujuran menulis berita, apalagi sudah dibumbui OPINI penulis, yang kita tdk tahu latar belakangnya…ya pasti RUNYAM seperti yang anda tulis. Akhirnya yang menang adalah popularitas bertita.

      Hemhhh… ternyata saya memang benar-benar tidak sendiri. Ya Tuhan… tunjukanlah kembali media-media massa yang memperunyam ini kembali kepada jalannya yang INDEPENDEN, MENCERDASKAN, SANTUN, m tidak dibumbui OPINI penulisnya. Amiiin

      Terimakasih banyak Om atas komentarnya yang semakin membuka wawasan kami, khususnya saya. :) Salam…

  4. Ini postingan sama komentar-komentarnya pada panjang bener *ngucek mata*.
    Kalau korporasi media sudah dianggap tidak menampilkan pemberitaan yang berimbang, monggo jadikan blog sebagai media pembuka wawasan.

    • Heheheeee… soriiii Om :)

      Yups betul banget, senjata terakhir sepertinya cuma blog buat ngimbangin media yang pincang :)

  5. Hidup Blogger ah!

    Saya setuju beberapa poin, kalau FPI ini ada karena “dibutuhkan”..

    saya baca juga mereka ke Kalteng juga DIUNDANG bukan ujug2 datang.. yang ngundang sapa, yang nolak sapa.. mesti banyak analisa…

    • Eh tapi banyak juga lho Mas Unggul, blogger yang pro FPI dibubarkan. :)

      Kalau saya sih mau dibubarkan atau enggak itu terserah pemerintah yang punya kebijakan. Tapi kalau FPI mau dibubarkan ya ada CATATAN, bahwa kelompok-kelompok lainpun yang cenderung tidak bermanfaat dan lebih meresahkan ya harus di bubarkan. Seperti JIL misalnya, emangnya gak ada gitu yang diresahkan oleh JIL ?. Huhhh… banyak Mas. Cuma, cara mereka sedikit lebih halus dibanding FPI, tapi efeknya naudzubillah dah dan itu jauuuuuh lebih keras.

      Kalau bicara perumpamaan berdasarkan keyakinan, lebih baik kelompok yang berbeda keyakinan sekalian, karena kita bisa lebih jelas dan bisa saling menghargai, ketimbang kelompok-kelompok yang merusak dari dalam dan berpura-pura seolah-olah mereka berbuat kebaikan.

      Wallahu’alam… Semoga Allah segera menunjukan mana yang benar dan mana yang keliru. :)

  6. posisi fpi hampir sama(persis malah) seperti demokrat
    di bombardir pemberitaan negatif nya aja
    mereka di anggap(atau memang beneran) melakukan tindakan yang merugikan rakyat/masyarakat
    setiap pembelaan yg mereka lakukan seakan malah semakin menyudutkan
    mereka punya sisi positif? itu pasti..tapi media ga mau tau
    mereka punya sisi negatif? pasti ada lah..itu berita bagus buat media
    sebagai penonton kadang kita ikut tepuk tangan saat beritanya kita anggap bagus
    atau sewot sendiri saat beritanya kita anggap tidak :iloveindonesia :iloveindonesia :iloveindonesia :iloveindonesia sesuai dgn kata hati kita

    • Yah mungkin salah satu hikmahnya kita dituntut untuk tidak menelan bulat-bulat setiap pemebritaan media. Apalagi kalau media sekuler, sudah harus kita mencari refernsi perimbangannya. :)

  7. saya netral saja soal fpi ini. usulan pembubaran fpi sudah sejak beberapa tahun lalu diungkapkan dan sepertinya kalangan yang tidak suka pada fpi terus berkampanye sampai sekarang. polisi dan kemenhukham kalau tidak salah pernah menjawab bahwa pembubaran organisasi tidak semudah yang dituntut oleh para pegiat anti fpi. jalur hukum harus ditempuh.

    nah, mestinya para pegiat anti fpi itu menempuh jalur hukum untuk membubarkan fpi, jangan justru mengkampanyekan kedamaian indonesia tanpa fpi tetap melakukan anarki yang lain. ingat, anarki bukan soal ‘perbuatan fisik’ saja. kata-kata juga bisa anarki.

    untuk pegiat anti fpi silakan tempuh jalur hukum guna membubarkan fpi. sampaikan argumen pembubaran secara hukum disertai bukti-bukti kekerasan fpi dan pasal-pasal hukum yang dilanggar.

    untuk habib rizieq shihab saya berpesan agar meneliti apa yang disampaikan erwin arnanda melalui twitter mengenai panglima-panglima fpi yang memerasnya. apabila habib rizieq shihab memang menjadikan fpi sebagai jalan amar ma’ruf nahi munkar, setan-setan di fpi juga harus dimusnahkan dari tubuh fpi.

    selain turun di aceh pasca tragedi tsunami, fpi juga membela warga korban sengketa lahan di mesuji. mungkin juga di tempat lain. apabila fpi berhasil dibubarkan, saya berharap pegiat anti fpi bisa menggantikan posisi fpi sebagai pembela rakyat korban sengketa lahan di mesuji menghadapi preman-preman tanah di sana.

    • saya netral saja soal fpi ini. usulan pembubaran fpi sudah sejak beberapa tahun lalu diungkapkan dan sepertinya kalangan yang tidak suka pada fpi terus berkampanye sampai sekarang. polisi dan kemenhukham kalau tidak salah pernah menjawab bahwa pembubaran organisasi tidak semudah yang dituntut oleh para pegiat anti fpi. jalur hukum harus ditempuh.
      nah, mestinya para pegiat anti fpi itu menempuh jalur hukum untuk membubarkan fpi, jangan justru mengkampanyekan kedamaian indonesia tanpa fpi tetap melakukan anarki yang lain. ingat, anarki bukan soal ‘perbuatan fisik’ saja. kata-kata juga bisa anarki.

      Nah itu dia yang sering diabaikan, pepatah saja mengatakan “lidah lebih tajam daripada pedang”, mereka sering lupa bahwa banyak sekali kekerasan dalam bentuk lain yang sebetulnya jauh lebih keras dibanding kekerasan yang dituduhkan kepada FPI

      untuk pegiat anti fpi silakan tempuh jalur hukum guna membubarkan fpi. sampaikan argumen pembubaran secara hukum disertai bukti-bukti kekerasan fpi dan pasal-pasal hukum yang dilanggar.

      Yups… supaya FPI pun bisa melakukan pembelaan di muka hukum atau bahkan melakukan pembukitan berbalik.

      untuk habib rizieq shihab saya berpesan agar meneliti apa yang disampaikan erwin arnanda melalui twitter mengenai panglima-panglima fpi yang memerasnya. apabila habib rizieq shihab memang menjadikan fpi sebagai jalan amar ma’ruf nahi munkar, setan-setan di fpi juga harus dimusnahkan dari tubuh fpi.

      Dan tentunya juga harus dibuktikan pula keabsahan twitter erwin arnanda, valid atau memang hanya tambah ngerecokin sebagai “ajang belas dendam”, kalau memang terbukti, habib Riziq ya so pasti harus menyikat “oknum” di FPI.

      selain turun di aceh pasca tragedi tsunami, fpi juga membela warga korban sengketa lahan di mesuji. mungkin juga di tempat lain. apabila fpi berhasil dibubarkan, saya berharap pegiat anti fpi bisa menggantikan posisi fpi sebagai pembela rakyat korban sengketa lahan di mesuji menghadapi preman-preman tanah di sana.

      Pertanyaan juga tuh buat Ormas/LSM yang katanya menjungjung tinggi HAM, pada kemana aja ????. Ko bisa ya warga Mesuji berlindung ke FPI ???. Ada apa dengan Ormas/LSM yang begitu vokal soal HAM ?. Sekaligus juga pertanyaan buat media, kenapa “episode” yang ini kurang di ekspose ?

      Terimakasih Kang Kombor atas komentarnya yang sudah menambah khasanah wawasan kita… Mudah-mudahan bermanfaat :)

  8. Kesian ya, umat muslim lagi diadu domba sama pihak-pihak yang ngga suka sama Islam, juga sama pihak yang punya kepentingan demi mengalihkan isu, padahal yang demo ngga lebih dari 50 ekor, ekspose nya lebay banget -_-’

    • Hmmmmhh… begitulah Kawan, mungkin lebih pasnya lagi “Terlebay Mengabarkan”, tapi dalam hal tertentu…

  9. Mungkin ada yang ingin mengatakan “siapa sih sebenarnya media-media tersebut ?”. Tidak perlulah Anda mempertanyakan hal itu, kecuali kalau Anda ingin menjebak saya dalam pusara hukum yang sudah berada di pihak yang sudah bisa ditebak.

    Kalau berat rasanya menyebutkan media-media yang Anda maksud (meskipun sebenernya semua orang sudah tau), mungkin akan lebih elok lagi jika Anda bisa menyebutkan beberapa media yang cukup netral dan juga beberapa media yang justru berseberangan dengan media-media yang Anda maksud ?

    Ini akan menjadikan kita bisa lebih TABAYYUN dan tidak menelan mentah-mentah setiap berita yang kita baca.

    • Kalau yang betul-betul netral saya rasa di Indonesia ini belum ada ya (kecuali mungkin sayanya yang tidak jeli). Tapi kalau yang bersebarangan jelas ada. Ingin saya juga menyebtukannya, dan saya rasa banyak orangpun tahu. Tapi justru ini bisa menjadi ketidak elokan karena hanya akan menimbulkan friksi yang semakin parah.
      Tapi diatas saya sudah menyebtukan salah satu media yang analisinya (dari seorang produser salah satu televisi swasta) saya kutip, saya rasa itu cukup bisa menjadi pembanding dengan media-media SIPILIS.

      Karena belum ada yang benar-benar netral itulah saya rasa salah satu jalan buat kita adalah : Setelah menyimak dari media sekuler, maka selanjutnya kitapun harus menyimak dari media penyeimbangnya (yang bisa jadi tidak berimbang juga), artinya kita sedniri yang harus melihat dari 2 sisi, ribet memang… tapi keadaan mengharuskan kita demikian.

      Wallahu’alam Sahabat, mohon maaf kalau saya keliru. :)

  10. anjing menggonggong kafilah berlalu, lanjutkan FPI saya mendukung anda semua

    • Satu pertimbangan tambahan :)

  11. Assalamualaikum bang..
    ane numpang copas ya tulisan ente..
    mau ane share soalnya sesuai dengan fakta saat ini..
    memang media sudaqh tidak independen terutama Metro TV yg selalu memojokkan FPI..
    knp kaya gitu ternyata di Metro bnyak orang JIL(Jaringan Islam Liberal) yang sangat membenci FPI..
    oleh karena itu saya sangat prihatin sekali terhadap media yg sudah tidak lagi independen..
    sebgai contoh jangan FPI dulu deh,Media tidak pernah memberitakan tentang **************** (MOHON MAAF, bagian di SENSOR / MODERASI oleh admin, supaya tidak semakin melebar keluar konteks dengan penyebutan identitas agama lain. SEKALI LAGI MOHON MAAF) *********

    • Walaikumsalam…. Monggo silahkan, tapi kalau ada yang dirubah / ditambah / dikurangi, Jelaskan juga bahwa Antum sudah melakukan perubahan. :)

      Ketentuan salin – tempel (copy – paste) atau penyebaran dalam bentuk lainnya bisa dibaca di :
      http://rosid.net/disklaimer/

      Semoga bermanfaat :)

  12. saya udah semakin benar2 gerah dengan media kita skrg. Kayaknya moto dr media itu “BAD NEWS IS GOOD NEWS”. Bahkan sering di buat2..

    pada akhirnya kita memang yg harus aktif mencari berita atau info2 yg seimbang.. spt tulisan di blog ini.. Krn kl cuma ngandalin media bisa kacau.. TFS ya :)

    • Sama-sama… mudah-mudahan media kita bisa semakin meningkatkan kualitas jurnalistiknya. Karena mereka PERS, yg setiap beritanya pasti telah melalui banyak proses, mulai dari penulisan sampai editing dilanjut publikasi, beda dengan blog… yang semuanya dilakukan sendiri.

      Thanks juga atas komennya ya :)

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco