<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ROSID</title>
	<atom:link href="http://rosid.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rosid.net</link>
	<description>Berawal Dari Rasa Penasaran</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 02:14:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Saatnya (Mantan) TKI Diarahkan Menjadi Pewirausaha</title>
		<link>http://rosid.net/saatnya-mantan-tki-diarahkan-menjadi-pewirausaha/</link>
		<comments>http://rosid.net/saatnya-mantan-tki-diarahkan-menjadi-pewirausaha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 01:50:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rosid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[OPINI]]></category>
		<category><![CDATA[buruh migran]]></category>
		<category><![CDATA[tenaga kerja Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[tki]]></category>
		<category><![CDATA[TKI Berwira usaha]]></category>
		<category><![CDATA[wira usaha TKI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosid.net/?p=2580</guid>
		<description><![CDATA[Sobat, sebelum saya melangkah lebih jauh dalam membuat tulisan ini, saya ingin meminta maaf jika selanjutnya didalam tulisan ini ditemukan banyak kesalahan. Saya bukan seorang ahli ekonomi, saya bukan seorang pengusaha, saya bukan seorang ahli peningkatan SDM, dan saya juga bukan seorang lulusan perguruan tinggi. Apa yang saya tuliskan ini adalah sebuah opini yang muncul didalam benak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Sobat, sebelum saya melangkah lebih jauh dalam membuat tulisan ini, saya ingin meminta maaf jika selanjutnya didalam tulisan ini ditemukan banyak kesalahan. Saya bukan seorang ahli ekonomi, saya bukan seorang pengusaha, saya bukan seorang ahli peningkatan SDM, dan saya juga bukan seorang lulusan perguruan tinggi. Apa yang saya tuliskan ini adalah sebuah opini yang muncul didalam benak pikiran, dan rasanya tangan saya tak tahan gatal sekali ingin menuliskannya disini. Baik, mudah-mudahan bermanfaat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Tulisan ini terinspirasi dari fakta sosial yang terjadi di masyarakat tentang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau <a href="http://buruhmigran.or.id/" target="_blank">Buruh Migran Indonesia</a> (BMI). Salah satu fakta sosial yang terjadi dimasyarakat adalah banyaknya TKI (khususnya Tenaga Kerja Wanita (TKW)) yang pergi menjadi pekerja informal diluar negeri secara berkali-kali, berulang-ulang, dan bertahun-tahun. Artinya begini, begitu masa kontraknya sudah habis seorang pekerja pulang ke tanah air, ironisnya tidak lama kemudian dalam hitungan bulan atau 1-2 tahun pekerja tersebut berangkat kembali menjadi TKI, dikarenakan uang hasil kerja kerasnya dipemberangkatan pertama habis tanpa makna.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Ini adalah sebuah fakta. Saya tidak melakukan observasi lebih jauh memang, tapi saya bisa merasakan dari lingkungan sosial terdekat saya, seperti dari saudara dan tetangga saya menjadi tenaga kerja di luar negeri.</span></p>
<h3 style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><strong>Memahami Motivasi Keberangkatan Seorang TKI</strong></span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Sebagian besar saudara-saudara kita yang bekerja di luar negeri tidak didasari oleh motivasi keahilan yang khusus, oleh karena itulah banyak yang bekerja di sektor informal. Banyak juga motivasi keberangkatan para TKI kita yang (sebetulnya) didasarai oleh masalah-masalah internal sang TKI, misalnya :</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><div class='et-box et-shadow'>
					<div class='et-box-content'></span></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Seorang TKI memutuskan menjadi pekerja diluar negeri karena masalah himpitan ekonomi keluarga dan terlilit hutang-piutang.</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Tidak jarang seorang TKW nekat menjadi pekerja di luar negeri karena sudah muak dengan tingkah laku sang suami, (sudah miskin nakal pula).</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Ada pula yang nekat menjadi TKI karena tidak tahan melihat kesejahteraan dan kelayakan hidup (sandang, pangan, dan papan) tetangga dan masyarakat sekitar.</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Dan, yang paling pasti adalah susahnya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang layak di dalam negeri sendiri.</span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"></div></div></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Yang harus paling kita garis bawahi adalah poin 1, 2, dan 3. Sedangkan nomor 4 saya anggap bukan cuma masalah internal sang TKI. Motivasi yang saya anggap “bermasalah” inilah yang sebetulnya bisa memicu masalah yang berefek domino di sesi berikutnya, meskipun secara motivasi kerja saya rasa cukup bagus karena akan memberikan semangat tersendiri bagi seorang TKI. Tapi masalahnya sejauh mana sang TKI bisa bertahan dari titik jenuh dan lelah, serta mempunyai kemampuan untuk melakukan pekerjaannya ?, belum lagi ditambah tekanan rindu ingin bertemu sanak saudara.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Kalau melihat poin-poin diatas, sangat dimungkinkan kalau para pekerja kita di luar negeri yang bekerja di sektor informal sebagian besar didorong oleh modal “nekat” yang sangat luar biasa. Sejatinya, jangankan bekerja di luar negeri, di dalam negeri saja kita tidak cukup dengan sekedar rasa nekat.</span></p>
<h3 style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><strong>Efek Domino Dari Kesalahan Motivasi Menjadi TKI</strong></span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Sekarang kita ibaratkan dulu ada banyak jutaan tenaga kerja kita di luar negeri yang berangkat kerja dengan landasan motivasi poin 1, 2 dan 3. Begitu mereka pulang dari luar negeri dengan membawa sejumlah uang, akan mereka gunakan apa uang-uang tersebut ?. Jawaban berikut saya rasa sedikit banyak punya kaitan dengan poin 1, 2, dan 3 diatas.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Namanya uang sudah ditangan, biasanya siapapun sangat mudah lalai dan sulit untuk mawas diri.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><div class='et-box et-shadow'>
					<div class='et-box-content'></span></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Ia lunasi hutang yang melilit diri dan keluarganya. Kemudian sisanya dipergunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. (lihat poin 1 diatas). Lama-kelamaan sisa uang yang ada habis tak bersisa. Karena kesulitan hidup sepertinya kembali mendekati, iapun nekat untuk berangkat kembali menjadi TKI di luar negeri.</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Begitu pulang, ia lupa kalau dulu suaminya sudah sering mengkhianatinya. Ia pun kembali rujuk dengan sang suami. Suaminyapun jelas mau, karena istrinya punya uang banyak. Begitu uangnya habis, suaminya mulai nakal lagi. (lihat poin 2 diatas). Sang istripun mulai prustasi kembali, dan akhirnya nekat untuk pergi lagi menjadi TKI.</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Karena uang sudah ditangan, dengan segera ia renovasi rumah menjadi lebih bagus, sisanya dibelikan perhiasan, alat-alat elektronik dan furnitur, tanah, dan kalau masih ada lebihnya itulah yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.  Tidak terpikirkan olehnya untuk merintis wirausaha (bisa jadi juga karena takut gagal), sehingga dikemudian waktu segala macam barang yang ia dibeli dijual kembali untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, sampai kemudian habis kembali. (lihat poin 3 diatas).</span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"></div></div></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Inilah efek domino yang lahir dari awal motivasi keberangkatan yang saya bilang “bermasalah”. Begitu TKI pulang kembali ke tanah air dengan selamat dan membawa hasil yang diusahakan, “motivasi bermasalah” tersebut memang bisa diselesaikan, tapi itu sementara. Karena salah satu kunci permasalahan pokoknya ekonomi, maka begitu uang habis &#8216;<em>dejavu&#8217;</em> masalahpun muncul kembali.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Ingat, saudara-saudara kita (mungkin diri kita sendiri) yang menjadi TKI tidak diberikan pembekalan untuk menjadi seorang wirausahawan, melainkan hanya dibina untuk menjadi seorang pekerja. Mungkin, inilah salah satu kunci permasalahannya.</span></p>
<h3 style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><strong>Pembinaan (Mantan) TKI Menjadi Pewirausaha</strong></span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Berdasarkan uraian diatas, sepertinya sangat beralasan kalau (mantan) TKI kita diberikan pembinaan untuk menjadi pewirausaha. Jadi, selain proses pembinaan untuk menjadi pekerja yang baik di perusahaan-perusahaan seharusnya pemerintah juga mempunyai tim khusus yang akan membina TKI-TKI kita untuk berwirausaha begitu sekembalinya mereka ke tanah air. Pola-polanya mungkin sederhana saja ya ;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><a href="http://rosid.net/wp-content/uploads/2011/09/TKI-Jadi-pengusaha.jpg"><span style="color: #000000;"><img class="aligncenter" title="TKI Jadi pengusaha" src="http://rosid.net/wp-content/uploads/2011/09/TKI-Jadi-pengusaha.jpg" alt="Pola Sederhana TKI Menjadi Pewirausaha" width="499" height="698" /></span></a></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><div class='et-box et-shadow'>
					<div class='et-box-content'></span></p>
<ol>
<li><span style="color: #000000;">Berikan bimbingan dan panduan mengenai jenis usaha apa yang akan dirintis, tentunya dengan melihat potensi dan bakat dari sang TKI. Bakat-bakat tersebut kemudian diasah oleh tim dari pemerintah.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Terus-menerus secara simultan memberikan bimbingan teknis mengenai jenis usaha yang sedang dikelola.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Lakukan monitoring secara ketat dan juga evaluasi mengenai pengembangan usaha sang TKI yang mungkin jika sampai disini bisa disebut mantan TKI.</span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"></div></div></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Secara modal, jelas ini jauh lebih efektif, karena calon pewirasusaha yang notabene mantan TKI tidak perlu meminjam dari luar baik koperasi maupun perbankan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Mengenai bimbingan, monitoring, dan evaluasi seperti diatas sangat perlu. Salah satu kegagalan yang terjadi pada program PNPM-nya Pemerintah Indonesia melalui alokasi BLM adalah tidak adanya pola ini. Meskipun pemerintah memberikan bantuan modal yang besar, karena tidak dibarengi dengan bimbingan usaha, maka tidak jarang modal yang besar tesebut akhirnya habis untuk urusan perut. Akhirnya macetlah pengembalian modal-modal tersebut, yang harus digulirkan kepada peminjam lainnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Sobat, ketika seorang mantan TKI sukses menjadi pewirausaha (amiin..), tentunya tidak akan ada alasan lagi bagi dirinya untuk kembali menjadi pekerja di luar negeri. Kalau saja diumpamakan ada 5.000.000 (lima juta) TKI kita di luar negeri, kemudian begitu pulang (minimal separuhnya dan syukur-syukur semuanya) berhasil dibina menjadi pewirausaha. Bayangkan, betapa mandirinya bangsa kita ?. Memang semuanya tidak semudah meludah, tapi semuanya masih mungkin kan ?. Yang penting sejauh mana kita punya kemauan dan sejauh mana kita mewujudkan kemauan tersebut.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Sekian, mudah-mudahan bermanfaat.</span></p>
<p style="text-align: right;"><strong>Informasi Seputar Buruh Migran Indonesia :</strong></p>
<p style="text-align: right;">website : http://buruhmigran.or.id</p>
<p style="text-align: right;">facebook :   <a href="https://www.facebook.com/buruhmigranindonesia" rel="ignore">Buruh Migran</a></p>
<p style="text-align: right;">twitter : <a href="http://twitter.com/infoburuhmigran">@infoburuhmigran</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosid.net/saatnya-mantan-tki-diarahkan-menjadi-pewirausaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paradoks Iman : Belum Dipakai Sudah Meminta Yang Baru Lagi !</title>
		<link>http://rosid.net/paradoks-iman-belum-dipakai-sudah-meminta-yang-baru-lagi/</link>
		<comments>http://rosid.net/paradoks-iman-belum-dipakai-sudah-meminta-yang-baru-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 14:58:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rosid</dc:creator>
				<category><![CDATA[HIKMAH]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Digest]]></category>
		<category><![CDATA[keimanan]]></category>
		<category><![CDATA[keraguan iman]]></category>
		<category><![CDATA[Paradoks Iman]]></category>
		<category><![CDATA[prinsip keimanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosid.net/?p=2588</guid>
		<description><![CDATA[Setidaknya, 5 kali dalam waktu 24 jam kita mengucapkan “Ihdina Shiratal Mustaqim” (seharusnya demikian sepanjang kita meyakini Islam sebagai agama yang dianut). Ihdina Shiratal Mustaqim (ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ),  ayat ke 6 pada Al-Qur&#8217;an surah Al-Faatihah, yang berarti “Tunjukanlah kami jalan yang lurus” adalah satu bentuk penghambaan kita terhadap Allah SWT dengan penuh harap mendapatkan arahan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif;">Setidaknya, 5 kali dalam waktu 24 jam kita mengucapkan “Ihdina Shiratal Mustaqim” (seharusnya demikian sepanjang kita meyakini Islam sebagai agama yang dianut). <em>Ihdina Shiratal Mustaqim </em>(</span><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif;">ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ</span><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif;">),  ayat ke 6 pada Al-Qur&#8217;an surah Al-Faatihah, yang berarti “Tunjukanlah kami jalan yang lurus” adalah satu bentuk penghambaan kita terhadap Allah SWT dengan penuh harap mendapatkan arahan, bimbingan, petunjuk, dan pembeda mana yang benar dan mana yang salah, sehingga kita tidak salah dalam meniti jalan kehidupan.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Dari sudut mana kita menilai benar atau salahnya ?. Tentu saja dari sudut pandang Ke-<em>illahian. </em>Karena, hanya Dia yang paling benar. Tidak perlu kita bingung seperti apa sudut pandang-Nya, karena sudah jelas Al Qur&#8217;an ada sebagai firman-Nya yang diwahyukan sebagai arahan, bimbingan, petunjuk, dan pembeda mana yang baik dan buruk. Betapa Maha Pemurah dan Pengasihnya Ia, sebelum kita (yang terlahir sebagai generasi setelah para Nabi) meminta ditunjukkan jalan yang lurus, Ia sudah menurunkan panduan buat kita yang siapapun berhak mencetak-ulangnya secara bebas tanpa harus membayar royalti kepada-Nya.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Kebenaran yang relatif hanyalah dari sudut pandang manusia, tapi lagi-lagi perlu ditegaskan kalau kita tidak hidup untuk menghamba kepada manusia. Kita hidup untuk yang Maha Hidup, dengan segala aturan-Nya yang kalau sepenuhnya kita ikuti akan tercipta keteraturan.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Allah sudah memberi kita panduan untuk melangkah dijalan yang lurus, lalu apakah kita boleh berhenti mengatakan “Ihdina Shiratal Mustaqim” ?. Tentu saja tidak !. Ada banyak petunjuk lain (yang tidak lepas dari petunjuk di Al Qur&#8217;an) yang masih harus kita dapatkan sepanjang hidup kita, dan itu berarti setiap waktu kita harus tetap selalu meminta petunjuk kepada Allah.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Yang jadi pertanyaan kemudian adalah : <strong>Sudahkah kita menjalankan petunjuk yang Allah berikan ?.</strong></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Apa yang akan sobat rasakan ; ketika dimintai nasihat, tapi yang diberi nasihat tersebut tidak melaksanakannya dan meminta nasihat kembali (demikian terus berulang) ?. Mungkin sobat akan merasa dipermainkan. Lalu bagaimana dengan Allah ? (patut direnungkan)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Contohnya sederhana, seorang ibu meminta petunjuk kepada Allah supaya diberikan bimbingan dalam mendidik anaknya, tapi ketika Allah memberikan petunjuk : </span></p>
<blockquote>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif;"><em>Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka&#8221;. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Q.S. Al Ahzab : 59)</em></span></span></p>
</blockquote>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">tidak menjalankan petunjuk tersebut. Bukankah Al Qur&#8217;an sebagai petunjuk dari Allah SWT ?.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Sangat tidak lucu, ketika kita begitu berharap banyak akan petunjuk dari Allah tapi tidak sedikit petunjuk yang nyata malah kita abaikan bahkan kita tentang. Dibanding berjilbab penuh kesadaran dan kelimuan, malah lebih senang berpegang pada argumen : “Lebih baik tidak berjilbab, daripada berjilbab tapi sok suci”, yang tanpa disadari argumen tersebut hanya melahrikan kedengkian (sumber multi penyakit) didalam diri kita. Ini baru satu contoh, belum lagi masih banyak contoh lain yang bisa kita gali bersama tentang betapa naif-nya kita, minta petunjuk tapi tidak mau menjalankan petunjuk yang sudah ada.</span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;"><strong>Menegur Kemunkaran Dengan Hati = Selemah-lemahnya Iman, Kalau Membela ?</strong></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Kita tidak asing dengan hadist Rasulullah SAW :</span></p>
<blockquote>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">&#8220;Barangsiapa di antara kamu melihat sesuatu kemungkaran, hendaklah berusaha mengubahnya dengan tangannya (termasuk dengan kekuasaan); jika tidak bisa, dengan mulutnya (menegur); jika tidak bisa, dengan hati (ingkar di dalam hati). Yang (terakhir) ini adalah selemah-lemahnya iman&#8221; (HR. Muslim dari sahabat Abu Sa&#8217;id al-Sudhry).</span></p>
</blockquote>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Bisa saja ada yang mengatakan : “Kalau bisa lebih dari sekedar dalam hati, <em>why not </em>?”, tapi faktanya mayoritas kita adalah pengecut, yah&#8230; sekali lagi pengecut. Rasa takut kita terhadap Allah hampir tidak pernah melebihi rasa takut kepada sesama manusia. Okelah, kalau kata “takut” terlalu ekstrim, mungkin bisa diganti dengan kata “malu”, yaitu ; rasa malu kita kepada Allah hampir tidak pernah melebih rasa malu kepada sesama manusia. Duh, tetap saja kita ini memang pengecut !.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Kalau menegur kemunkaran dengan hati saja adalah selemah-lemahnya iman, bagiamana dengan membela kemunkaran ?.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Saya tidak sedang mangkadar keimanan siapapun, termasuk diri sendiri. Tapi ini adalah satu titik balik pertanyaan yang bercermin kepada amal perbuatan kita dan hadist nabi diatas. Siapapun bisa saja merasa ragu atau tidak suka dengan hadist tersebut. Tapi lagi-lagi ini semakin mengerucut kepada keimanan, terutama Rukun Iman yang keempat (Beriman kepada Rasul-rasul Allah). Kita ragu terhadap sunah Rasul, berarti cacat pula rukun iman kita. Tidak kah ini logis ?.</span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;"><strong>Diputar-putar Oleh Keraguan</strong></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Saya berasumsi, bahwa sebetulnya tidak akan ada paradoks soal keimanan, seandainya saja tidak ada premis yang mengacaukannya. Yaitu potensi keraguan yang membuat pikiran dan tindakan kita <del>seperti</del> gamang. Salah satu contoh premis tersebut adalah seperti ketika coba-coba mengukur kekuasaan Allah dengan akal kita. Jelas saja ini keliru, bagaimana mungkin sebuah dimensi yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu coba kita jangkau oleh kemampuan otak kita yang sangat terbatas ?.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Keraguan ini mendorong kita untuk menghamba (atau justru menghujat) kepada Allah disaat kita berhadapan dengan banyak kesulitan, tapi disisi lain kita tidak pernah menjalankan aturan-Nya, yang sebetulnya ada sebagai jawaban atas keinginan kita untuk mendapat petunjuk jalan yang lurus dan bekal dalam menghadapi kesulitan. Kita meminta kepada-Nya, tapi kadang kita sendiri seperti tidak pernah memahami apa yang kita pinta. Kembali berpegang teguh kepada petunjuk-Nya adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan petunjuk-Nya.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #000000;">Wallahu&#8217;alam&#8230;</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosid.net/paradoks-iman-belum-dipakai-sudah-meminta-yang-baru-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatilah, Atau Noda Tidak Akan Terhapus</title>
		<link>http://rosid.net/nikmatilah-atau-noda-tidak-akan-terhapus/</link>
		<comments>http://rosid.net/nikmatilah-atau-noda-tidak-akan-terhapus/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 May 2012 16:37:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rosid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[HIKMAH]]></category>
		<category><![CDATA[harapan yang hilang]]></category>
		<category><![CDATA[menikmati hidup]]></category>
		<category><![CDATA[nikmatilah hidup ini]]></category>
		<category><![CDATA[ujian hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosid.net/?p=2573</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah kenapa kau tak perlu berkeluh kesah saat apa yang kadapatkan tak seperti yang kau harapkan ?. Karena, siapa yang akan peduli dengan keluh-kesahmu itu&#8230;. ?. Tak akan ada&#8230; satupun. Bahkan Allah sekalipun mungkin tidak menyukainya, karena kalaulah orang sabar disayang Allah, mungkin orang yang berkeluhkesah adalah sebaliknya&#8230; Meskipun logika kita tidak mampu mengukur cara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tahukah kenapa kau tak perlu berkeluh kesah saat apa yang kadapatkan tak seperti yang kau harapkan ?. Karena, siapa yang akan peduli dengan keluh-kesahmu itu&#8230;. ?. Tak akan ada&#8230; satupun. Bahkan Allah sekalipun mungkin tidak menyukainya, karena kalaulah orang sabar disayang Allah, mungkin orang yang berkeluhkesah adalah sebaliknya&#8230; Meskipun logika kita tidak mampu mengukur cara Allah menilai kita, namun dengan logika itulah Allah memberi kita kesempatan untuk mengkadar diri&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kau berkeluh kesah, harapan yang lepas dari tanganmu itu sedang asik bergumul dengan yang mendapatkannya.<br />
Saat kau berkeluh kesah, orang lainpun sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih rumit dari apa yang kau rasakan.<br />
Dan, saat-saat kau berkeluh kesah seperti itu, maka akan datang sosok yang seolah-olah mempedulikanmua tapi akan menghancurkanmu jauh lebih dalam lagi, yaitu Setan. Waspadailah itu&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Nikmatilah apa yang sedang kau dapatkan dan rasakan, seperti saat sebatang jarum menusuk lenganmu untuk mengeluarkan darah dari dalam dirimu, kemudian Allah menggantikannya dengan darah baru yang lebih segar&#8230; Itulah sepedih-pedihnya rasa sakit dalam kehidupan, selalu ada sesuatu yang baru yang sudah Allah siapkan agar diri kita menjadi lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang akan terjadi jika saat jarum tersebut ditusukan, kamu berontak ?. Semuanya akan kacau&#8230;. darah berceceran dipakaianmu tanpa bisa kau menghilangkan nodanya. Tapi, jika kau nikmati&#8230; semuanya akan terasa lebih baik dan berakibat menyenangkan&#8230; Nikmatilah apa yang sedang kau hadapi, jangan memberontaknya atau keadaan akan jadi lebih buruk.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau apa yang kau peroleh saat ini adalah yang lebih layak bagimu, maka tanyakan &#8220;ada apa dengan diriku&#8221; pada dirimu. Perbaikilah&#8230; agar kamu menjadi layak untuk memperoleh yang (bahkan) lebih dari sekedar yang kamu harapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosid.net/nikmatilah-atau-noda-tidak-akan-terhapus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku dan Kamu, Bukanlah Sebuah Keberuntungan</title>
		<link>http://rosid.net/aku-dan-kamu-bukanlah-sebuah-keberuntungan/</link>
		<comments>http://rosid.net/aku-dan-kamu-bukanlah-sebuah-keberuntungan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 10:36:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rosid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[HIKMAH]]></category>
		<category><![CDATA[aku dan kamu jodoh]]></category>
		<category><![CDATA[aku dan kamu keberuntungan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta bukan keberuntungan]]></category>
		<category><![CDATA[keberuntungan cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kerugian]]></category>
		<category><![CDATA[mengalah untuk menang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosid.net/?p=2568</guid>
		<description><![CDATA[Keberuntungan dapat membuat kita memperoleh sesuatu, namun belum tentu untuk mempertahankannya. Seperti mendapatkan hadiah dari undian Lucky Draw yang kemudian dengan mudah kita menjualnya. Atau, meraih kemenangan di semifinal (padahal permainannya sangat buruk) lalu kemudian hancur lebur di partai final, karena memang sebetulnya secara kualitas tidak layak masuk ke final. Lain halnya seandainya nanti aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Keberuntungan dapat membuat kita memperoleh sesuatu, namun belum tentu untuk mempertahankannya. Seperti mendapatkan hadiah dari undian Lucky Draw yang kemudian dengan mudah kita menjualnya. Atau, meraih kemenangan di semifinal (padahal permainannya sangat buruk) lalu kemudian hancur lebur di partai final, karena memang sebetulnya secara kualitas tidak layak masuk ke final.</p>
<p style="text-align: justify;">Lain halnya seandainya nanti aku mendapatkanmu, bagiku itu bukanlah keberuntungan&#8230; tapi kemenangan dari sebuah perjuangan. Perjuangan dimana aku harus menjadi manusia yang layak kamu cintai. Perjuangan dimana aku harus bisa meyakinkan Tuhan bahwa aku memang layak dipersandingkan denganmu. Perjuangan yang membuat Tuhan menganggap layak untuk menautkan hatimu dengan hatiku. Perjuangan yang tidak hanya membuatku harus meyakinkan satu hati, tapi banyak hati yang harus bisa aku yakinkan, bahwa aku memang layak menjagamu sebagai amanah Tuhan yang terindah. Karena itulah, tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempertahankanmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat aku mendapatkanmu bukanlah sebuah keberuntungan. Begitu juga harapan sebaliknya, jangan anggap aku sebagai keberuntungan ketika kamu bersamaku. Karena, aku ingin tetap di jaga oleh kodratmu, aku ingin tetap dijaga oleh hati lembutmu, aku ingin dilindungi oleh do&#8217;a-do&#8217;a cintamu yang penuh ketulusan. Dimana kodratmu, kelembutan hatimu, dan do&#8217;a-do&#8217;a cintamu&#8230; bukanlah sebuah keberuntungan, tapi adalah perjuangan&#8230; tidak mudah bagi siapapun untuk pandai bersyukur atas kodratnya, menghadirkan kelembutan dari dalam hatinya, dan menghembuskan do&#8217;a-do&#8217;a cintanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dan kamu bukanlah sebuah keberuntungan&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dan kamu adalah buah dari perjuangan, dimana biji dari buah tersebut akan melahirkan kembali perjuangan. Kemudian berbuah, berbiji, tertanam, berjuang untuk tumbuh, berbuah lagi, dan seterusnya&#8230; Ya, kamu dan aku adalah satu paket untuk berjuang tanpa henti, bukan keberuntungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, bagaimana jika aku tidak mendapatkanmu ?</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin, itu baru keberuntungan&#8230; Karena hanya orang-orang yang beruntunglah yang akan mendapatkan kejutan indah, termasuk kejutan dari Tuhan. Karena, aku percaya&#8230; dibalik hasil yang tidak diharapkan, Tuhan punya rencana tersendiri yang tidak kalah indah dari sesuatu yang gagal didapatkan. Bukan berarti kamu menjadi kurang indah, tapi kesabaran dan kebesaran hatiku dalam menerima kekalahan yang akan menentukan mana yang lebih indah dari yang indah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosid.net/aku-dan-kamu-bukanlah-sebuah-keberuntungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Protes PPI Berlin &#8211; Jerman yang “Ngeri-ngeri Sedap”</title>
		<link>http://rosid.net/protes-ppi-berlin-jerman-yang-ngeri-ngeri-sedap/</link>
		<comments>http://rosid.net/protes-ppi-berlin-jerman-yang-ngeri-ngeri-sedap/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2012 10:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rosid</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL ROSID]]></category>
		<category><![CDATA[Mata Pena]]></category>
		<category><![CDATA[ppi jerman walkout]]></category>
		<category><![CDATA[protes kunjungan kerja anggota dewan]]></category>
		<category><![CDATA[protes ppi berlin]]></category>
		<category><![CDATA[protes ppi jerman]]></category>
		<category><![CDATA[vide protes ppi jerman]]></category>
		<category><![CDATA[video protes ppi berli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosid.net/?p=2463</guid>
		<description><![CDATA[Terharu, itulah reaksi nurani saya ketika menyaksikan sebuah video berdurasi sekitar 9 menit 40 detik yang diulpoad di Youtube. Video tersebut berisi tentang kunjungan kerja Komisi I DPR RI ke Jerman yang diantaranya diikuti oleh fraksi Golkar, fraksi Demokrat, dan fraksi PDI Perjuangan. Cuaca Berlin yang dingin, seketika berubah menjadi hangat bahkan panas, ketika ditengah-tengah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #c0c0c0;">Terharu, itulah reaksi nurani saya ketika menyaksikan sebuah video berdurasi sekitar 9 menit 40 detik yang diulpoad di Youtube. Video tersebut berisi tentang kunjungan kerja Komisi I DPR RI ke Jerman yang diantaranya diikuti oleh fraksi Golkar, fraksi Demokrat, dan fraksi PDI Perjuangan.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #c0c0c0;"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif;">Cuaca Berlin yang di</span><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif;">ngin, seketika berubah menjadi hangat bahkan panas, ketika ditengah-tengah acara yang bisa dibilang formal, Perhimpunan Pelajar Berlin (PPI) membacakan pernyataan sikap yang mengkritisi sekaligus mempertanyakan efektifitas kedatangan rombongan, semisal :</span></span></p>
<ul>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #c0c0c0;">Kedatangan selalu berjamaah, bahkan turut mengajak istri (keluarga) yang cenderung merepotkan KBRI yang kinerja utamanya bukan untuk melayani anggota dewan dan keluarga yang kurang urgen.</span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #c0c0c0;">Kunjungan yang berbondong-bondong seperti orang kampung yang beramai-ramai ke kota. Ditambah lagi seperti ingin pamer oleh-oleh dari negara yang dikunjungi.</span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #c0c0c0;">Kunjungan kerjapun cenderung tidak efektif, malah cenderung buang-buang waktu, tenaga, dan biaya.</span></p>
</li>
</ul>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #c0c0c0;">Selain itu juga PPI meminta transparansi agenda dan laporan hasil kunjungan kerja ke luar negeri. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #c0c0c0;">Apa yang dilakukan oleh PPI Berlin (kalau boleh meminjam istilah dari Sutan Batoegana) bisa dibilang <em><strong>Ngeri-ngeri Sedap.</strong></em><strong> Ngeri,</strong> ketika betapa rendahnya rasa kepedulian dari para anggota dewan yang terhormat ditengah kondisi negara yang bisa dibilang kurang sehat masih tetap memanfaatkan kunjungan kerja sebagai wahana jalan-jalan dengan mengajak anggota keluarga, dan <strong>sedap,</strong> ketika PPI dengan tenangnya membacakan pernyataan sikap yang pelan tapi <em>Jleppppp !!!! </em> menusuk ulu hati (seandainya anggota dewan kita masih punya hati).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #c0c0c0;">Dari video tersebut jadi timbul harapan semoga PPI dinegara-negara lainnya bisa menjadikan itu sebagai inspirasi untuk menjadikannya senjata “pemukul mundur” demi mengurangi kebiasaan wakil rakyat yang hobi “berdarma wisata” ke luar negeri. Ya syukur-syukur justru menjadi pelajar bagi DPR untuk tidak membiasakan yang namanya kunjungan kerja ke luar negeri yang cenderung tidak identik.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #c0c0c0;">Tidak ada kerusakan materi dalam penyampian aspirasi tersebut, bahkan bisa dibilang sebagai cara yang cerdas sebagai generasi yang terpelajar dalam mengkiritasi kebjakan para pengelola negara. Langkuh selanjutnya yang semakin menampar wajah anggota-anggota dewan tersebut adalah ketika para mahasiswa meninggalkan ruangan <em>(walkout). </em>Kalau para wakil rakyat tersebut masih tetap senyum-senyum diacara tersebut, bisa jadi kesimpulannya adalah satu “Sungguh tidak punya malu !”. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'DejaVu Sans Condensed', sans-serif; color: #c0c0c0;">Berikut ini adalah videonya :</span></p>
<p><span style="color: #c0c0c0;"><iframe src="http://www.youtube.com/embed/95-pAGcKG1Q" frameborder="0" width="560" height="405"></iframe></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosid.net/protes-ppi-berlin-jerman-yang-ngeri-ngeri-sedap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

