Merenung di Malam Hari

Sudah cukup lama sebetulnya saya ingin menuangkan satu cerita yang bagi saya sendiri bisa dibilang menarik. Tapi belakangan hari ini konsentrasi  dan situasi saya selalu tidak mendukung untuk “berkisah”, ditambah lagi memang ROSID.NET ada sedikit kendala dan mengharuskannya pindah server yang secara otomatis membutuhkan waktu juga untuk proses propagasi supaya bisa diakses kembali.

Kurang lebih sebulanan yang lalu, suasana hati dan pikiran saya benar-benar diliputi rasa jenuh yang memuncak. Usut punya usut di dalam diri, saya memprediksi kalau saya sepertinya terlalu disibukan oleh dua hal, yaitu pekerjaan dan monotonitas kegiatan. Sebetulnya pekerjaan saya tidak mengekang-mengekang amat, bisa dibilang bebas malahan, mungkin sayanya aja yang terlalu menikmatinya sehingga saya menjadi seperti abai terhdap hal-hal lain.

Sering sekali saya pulang larut malam, seakan-akan tempat tinggal benar-benar saya jadikan hanya sebagai tempat tidur saja. Sayapun bisa dibilang lupa seperti apa suasana siang hari dan hari libur ditempat tinggal saya.

Satu hari, seperti biasanya saya pulang agak malam, ya sekitar pukul 9 malamlah. Ketika pulang saya tidak memutuskan untuk langsung pulang kerumah. Saya coba rubah arah kaki, saya mau refreshing sejenak dengan menikmati suasa malam yang terasa sangat sejuk, tenteram, damai, dan mungkin cocok untuk diajak merenung. Ter dari film “Naga Bonar Menjadi 2”, saya sangat tertarik dengan suasana malam ketika “Dedy Mizwar” duduk-duduk ditaman apartemen anaknya, Bonaga (Tora Sudiro), yang kalau tidak salah itu apartemen Bellagio. Sayapun mencoba mencari suasana yang tidak jauh berbeda dengan demikian, duduk santai ditaman kota yang diterangi lampu-lampu cantik.

Sulit memang untuk menemukan tempat yang seperti demikian, terlebih lagi dengan hiruk-pikuknya kota Tangerang. Tapi nongkrong ditepi danau bekas galian di sekitar Citra Raya ternyata lumayan enjoy juga. Saya bawa 2 kaleng minumal ringan dan dua bungkus cemilan untuk menemani suasana “mengenjoykan” diri tersebut, lumayanlah sedikit lebih rileks dan fresh, nongkrong di pinggir danau dengan pantulan cahaya diatas airnya, ditambah lagi dengan pancuran air mancur di tengah danau tersebut. Jujur sih, sepertinya tempat dan suasananya memang sering jadi incaran-incara mudi-mudi berpacaran, tapi mudah-mudahan itu jangan sampai menginspirasi saya ataupun yang membaca tulisan ini, karena memang bukan itu juga yang akan saya bahas.

Saat-saat saya menikmati suasana sambil mendengarkan mp3 alunan lagu-lagu Ebiet G Ade (benar-benar suasana baru setelah selama ini saya terlalu disibukan oleh diri sendiri), datanglah seorang perempuan menghampiri saya (nah lhoo…). Dengan lembutnya ia menyapa saya “Malam mas, lagi nyantai nih mas ???”. Dengan perasaan kaget, kaku dan (jujur) takut sayapun bilang “I.. iii… iya mbak, biasa mbak lagi cari suasana santai aja”. Saya benar khawatir plus takut, saya takut kalau si perempuan tersebut punya niat jahat terhadap saya, tapi dengan sekuat pikiran saya coba buang pikiran negatif saya tersebut dengan tetap berusaha konsentransi atas segala kemungkinan terburuk.

Singkat cerita si perempuan tersebut bermaksud menjajakan diri (astagfirullah), Terang saja saya gemeteran dan deg-degan… astagfirullah, baru kali ini saya dalam situasi seperti ini. Mungkin iya, ini secara nyata saya sedang berhadapan langsung dengan godaan syetan, sayapun berusaha menenangkan pikiran dan hati, sayapun mencoba menolaknya dengan penuh kehati-hatian karena bagaimanapun sosok yang sedang hadapi saya saat ini adalah seorang yang tetap harus kita manusiakan.

“Maaf mbak, sepertinya mbak salah orang. Saya bukannya sok alim, tapi sebejat-bejatnya saya, saya mencoba untuk menghindari itu….” Sela saya.

“Ah nggak pake mahal ko mas, yang penting besok pagi adik saya bisa sekolah…” sahut dia.

Benar-benar posisi yang sulit, bukan sulit antara saya tergoda dan tidak tergoda. Tapi sulit bagaimana caranya supaya saya pergi dari situ, gampang sih memang tinggal pergi begitu saja dan semuanya mungkin selesai. Tapi saya rasa itu bukan sesuatu cara yang baik untuk menunjukan kalau kita punya etika.

Singkat cerita, akhirnya si perempuan tersebut bisa memahami dan memaklumi penolakan saya, selanjutnya saya dan diapun terlibat dalam obrolan-obrolan dengan topik yang lain. Untung saya bawa minuman ringan dua kaleng, jadi yang satu bisa saya berikan buat dia. Saya faham betul kalau saya dalam situasi yang terlarang, dua manusia yang berlainan mukhrim berdua-duaan dimalam hari, dan itu sangat dibenci oleh Allah SWT. Tapi saat itu saya benar-benar terbawa suasana obrolan, mungkin ini juga karena kelemahan iman saya (Ya Allah ampuni hamba), tapi alhamdulillah Allah masih melindungi saya sehingga sangat bisa dipastikan tidak terjadi hal-hal yang melampau batas. Dan saat itu benar-benar saat-saat yang penuh obrolan saja.

Saya tidak bermaksud mempergunjingkan dia, terlebih dari obrolan-obrolan diantara kami ada satu cerita yang berharga minimal buat saya. Dia sampaikan kepada saya;

Bahwa dia sudah kurang lebih sekitar 7 tahun berfrofesi sebagai (maaf) tuna susila, tidak perlulah kita membayangkan apa saja yang sudah dia lakukan. Dengan profesinya tersebut ia berkewajibkan untuk menyekolahkan 3 adiknya, 2 masih duduk dibangku sekolah dasar dan 1 dibangku SMA, ketiga-tiganya perempuan. Ia sadar betul bahwa apa yang dijalananyi merupakan jalan yang salah.

Entah seperti apa nanti hasilnya 3 orang manusia yang disekolahkan dari hasil menjual diri, saya tidak tahu ?, setahu saya memberi makan dari usaha haram saja itu sama halnya dengan menjadikan kita sebagai  bahan bakarnya neraka. Entahlah… hanya ada satu pikiran yang menurut pemahaman bodoh saya “setan dan malaikat” bisa bersahabat yaitu, kalau saya berhenti bisa jadi ketiga adik saya akan berfrofesi seperti saya saat ini, dan seandainya saya ingin adik-adik saya menjadi manusia yang terhormat dihadapan manusia dan Tuhan mungkin saya harus tetap melanjutkan ini. Saya tahu dosa-dosa saya tidak bisa ditanggung oleh siapapun, kecuali diri saya sendiri. Tapi saya juga yakin, kalau kebaikan saya (seandainya saya punya kebaikan) bisa dirasakan oleh siapapun, termasuk adik saya.”

“Tapi jujur, ini bukan hanya sekedar berbicara kebutuhan hidup lagi, ini sudah menjadi sebuah pusara yang seolah-olah tangan kanan saya sudah diborgol oleh iblis dan tangan kiri saya sudah diikat oleh syetan. Sebetulnya saya sudah lelah dengan kehidupan seperti ini, kadang ingin sekali saya mengakhiri hidup saya, tapi kalau itu saya lakukan sama saja saya sudah menutup pintu taubat saya sendiri yang siapa tahu kelak Tuhan masih memberikannya untuk saya. Saya ingin berubah, tapi langkah “sesat” yang sudah saya tempuh ini sudah sangat jauh jaraknya, dan saya belum bisa untuk kembali ke asal semula dengan langkah yang cepat, saya butuh proses tapi proses itu sendiri rasanya terus menghindar dari saya.

Itu adalah sepenggal ungkapan si perempuan tersebut yang mungkin bisa saya simpulkan (kurang dan lebihnya mohon maaf), diobrolan ini saya benar-benar hanya sebagai pendengar setia. Tidak banyak yang bisa saya sampaikan kepadanya, karena ini memang bukan persoalan yang sederhana. Mungkin bisa saja kita mengeluarkan berbagai pendapat dan kajian seperti halnya kita ceramah dihadapannya, tapi saya rasa ini butuh pendekatan dan proses yang lebih komprehensif dan konsisten secara dengan memahami betul perasaan. Karena biasanya kalau kita mengeluarkan berbagai pendapat yang dia sendiri sebetulnya  tahu justru akan menyudutkan dirinya yang bisa membuat dia semakin tertekan. Secara mental dan psikis jelas itu kurang bagus.

Kembali ke cerita si perempuan tersebut, diapun menceritakan kalau dia sedang menjalin hubungan kedekatan dengan seorang lelaki, yang ternyata lelaki tersebut merupakan pelanggan tetapnya kalau “jajan syahwat”. Astagfirullah…. sampai disini saja obrolan benar-benar mengobok-obok pikiran saya. Ia sendiri heran, kenapa ada lelaki yang mau menjadi pelanggannya kemudian mau juga menjalin hubungan dengannya, padahal kan si lelaki tersebut tahu kalau si perempuan yang diinya saat ini sudah banyak berhubungan badan dengan banyak lelaki.

Perempuan tersebut menuturkan :

“Selama ini memang sudah sering dia mengajak saya untuk menikah, terlepas dari segala bentuk yang melatar belakangi niatnya untuk menikahi saya, ada satu hal yang selalu membuat saya menolaknya. Saya memang bejat, saya memang hina, tapi saya tidak bisa kalau harus menikah dengan seorang lelaki yang berbeda keyakinan. Dibilang munafik, mungkin iya, tapi meskipun saya munafik saya tetap ingin punya keimanan walaupun mungkin keimanan saya hanya ibarat sebutir pasir diantara padang pasir dosa-dosa saya”.

Dari sekian banyak ungkapannya, hampir tidak satupun yang bisa saya tanggapi dengan mantap, saya benar dalam posisi yang tidak solutif. Ada beberapa memang yang saya sampaikan, tapi secara kualitas apa yang sampaikan kepada dia sepertinya tidak begitu bermakna. Antara kebodohan, penuh tanda tanya, dan perasaan yang sensitif semua campur aduk dalam diri saya.

Tanpa terasanya ternyata waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, minuman ringan dan cemilanpun sudah habis, suasana malam sepertinya sudah tidak cocok lagi untuk refresh. Sayapun memutuskan menyudahi obrolan tersebut. Kami berdua saling berpamitan, saya beranjak pulang dan dia entah beranjak kemana. Sepanjang perjalanan pulang sampai esok harinya ternyata obrolan antara saya dan dia benar-benar masih menggelayut dipikiran saya.

Di Malam yang Kedua

Hari berikutnya, sayapun beraktifitas seperti biasa. Sekitar pukul 8 malam saya pulang dari tempat kerja, sayapun memutuskan untuk nongkrong ditempat yang kemarin lagi. Jujur sih, saya masih penasaran dengan kelanjutan obrolan sama si perempuan tersebut yang terpotong oleh terbatasnya waktu dan kondisi.

Bekal yang saya bawapun tidak jauh berbeda, 2 kaleng minuman ringan dan 2 bungkus cemilan. Suasana malam yang kedua ini agak sedikit berbeda, rembulan benar-benar bersinar terang dan pantulannya sangat kontras diatas air danau. Hemhhh… pantas saja banyak banget muda-mudia yang asyik memadu kasih…

MP3 Pop Sunda dan Doel Sumbang-pun saya dendangkan dari handphone butut saya, suasananya memang mengasyikan, sesekali saya lemparkan kerikil ke air mancur ditengah danau. Heuheuheuuu…. kaya di sinetron aja ya…?

Sekitar pukul 9 lebih 20 menit, datanglah seseorang menghampiri… (nah lhoo…cie..cieee…!!), tapi ternyata orang yang menghampiri saya tersebut bukan seorang perempuan, badannya tinggi tegap namun pembawaanya santai. Tapi meskipun santai, untuk kali ini saya benar-benar ketakutan, yang ada dipikiran saya sendainya terjadi kemungkinan terburuk maka kalau sempat mungkin langkah seribulah yang paling tepat.

Waduh mata saya mulai sepet ni buat menceritakannya, mau dilanjut besok tapi pikiran dan kondisinya takut tidak bersahabat lagi. Heuuhhh… ger macam apa pula ya aku ini, nulis aja angot-angotan. Heuheuheuheuuu…..

Dipersingkat aja ya ceritanya ?, wah gak seru doooonkk….??!!! Biarin, wekkkk !!!  yang penting update konten blog. Heuuuu…. blogger saraf !

Ok, dilanjut yaaaa….

Singkat cerita ternyata lelaki tersebut lumayan baik dan ramah, alhamdulillah…. praduga saya meleset. Saya dan diapun mulai terlibat banyak obrolan, lagi-lagi saya berada pada posisi sebagai pendengar setia saja. Singkatnya….

“Saya ini kesini kebetulan ada perlu sama sesorang kang (lelaki ini menyebut saya akang semenjak dia tahu kalau saya orang Sunda),dia seorang perempuan. Kebetulan dia (maaf) seorangWTS, sebelumnya saya memang bisa dibilang sebagai pelanggan dia dalam menyalurkan syahwat bejat saya, tapi kurang lebih semenjak sebulanan yang lalu saya hampir bisa dibilang sering menemuinya tapi tidak lagi mempergaulinya. Entah kenapa setiap kali saya akan melakukan hubungan badan dengan dia jiwa saya jadi berontak, tiba-tiba dalam hati saya muncul kalau saya bukan hanya sedang membuat dosa antara saya dan dia, melainkan saya sudah menorehkan noda-noda pada diri adik-adiknya yang dia tanggung dengan cara-cara dia saat ini. Coba bayangkan saja kang mau hubungan badan timbul pemikiran seperti, apa iya kita bisa enjoy ? (Beuuuuhhh…. suruh ngebayangin katanya, nikah aja belum…. stop.. stoppp ahhh… bisa-bisa gaswat dan bahaya nih)”.

“Sudah beberapa kali saya mengajaknya untuk menikah, saya tidak sanggup menahan rasa iba ketika ditengah malam ia masih berdiri termangu dipagar taman ini untuk menjajakan diri. Tapi entah kenapa ia selalu menolaknya dan selalu bilang waktunya belum tepat.”

“Nah terus sekarang mau menemui dia ngapain tuh mas ?, maaf ya bukannya mau ikut campur, tapi rasanya terlanjur saja kita membahas hal ini”, Tanya saya.

“Jujur, saya kangen sama dia. Rasa awal saya sama dia yang sebelumnya sering dilatari hawa nafsu entah kenapa belakngan ini saya menjadi benar-benar cinta sama dia. Saya tahu, dia bukan wanita yang baik-baik, tapi saya juga menyadari kalau saya juga bukan laki-laki yang baik, saya laki-laki yang bejat, brutal dan rusak, dan karena kondisi sepeti itu pula orang tua saya yang seorang Pendeta sekalipun tidak sanggup lagi untuk mengurus saya dan memilih untuk mengusir saya dari keluarga, karena saya hanya menjadi aib keluarga. Kini antara saya dan dia saling tahu sama tahu keburukan masing-masing, mungkin benar apa yangdikatakan di Qur’an :

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”

Dimana ayat tersebut menunjukkan kesucian ‘Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau, lalu demikian halnya antara saya dan dia (perempuan tersebut) yang sama penuh dalam kekejian.”

Mendengar ungkapannya tersebut, tentu saja dahi saya benar-benar dibuat berkerut. Kalaulah si perempuan (maaf) tuna susila tersebut pernah bercerita tentang seorang lelaki yang mengajaknya menikah maka saya yakin betul inilah orangnya. Ketika si perempuan tersebut mengatakan kalau mereka saling berbeda keyakinan, saya rasa benar adanya. Tapi yang membuat saya heran, sepertinya si lelaki ini sedikit banyak dia faham tentang .

Waktu sudah menunjukan pukul 10 lebih 50 menitan, lelaki tersebut memutuskan untuk pulang, karena sepertinya si perempuannya sedang “absen” tak kunjung datang, dan obrolan kamipun diakhiri sampai disini. Dia pergi, sayapun pulang. Saya merasa ini dua malam beruntun yang sangat aneh bagi saya, Apa sebenarnya yang ingin Allah sampikan, sampai saat ini saya masih belum bisa menyimpulkannya.

Di Malam yang Ketiga

Sebetulnya untuk malam yang ketiga ini tidak berurutan dari malam yang ke 1 dan ke 2. Malam ketiga ini kurang lebih 1 pekan berlalu dari malam yang ke 2.

Menjelang pukul 7 malam lewat 25 menitan, saya pun memutuskan pulang dari tempat kerja. Karena waktu sudah memasuki waktu sholat Isya, sayapun memutuskan untuk mampir dulu ke mesjid yang kebetulan letaknya berdekatan dengan tempat kerja saya.

Seusai menunaikan satu kewajiban tersebut, sayapun bergegas untuk pulang karena sepertinya hujan akan turun. Begitu saya keluar dari pintu mesjid, subhanallah…. kaget, bengong, seakan sangat tidak percaya saya bertemu dengan dua orang yang pernah saya temui dimalam pertama dan kedua sebagaimana yang saya ceritakan diatas. Sebut saja yang laki-laki namanya A dan yang perempuan namanya B. Dan tahukah sobat ternyata A dan B kini sudah menikah. Subhanallah… sungguh luar biasa hidayah yang Allah turunkan.

Ternyata diantara keduanyapun pernah saling menceritakan tentang saya, si A mencertiakan pernah mengobrol dengan saya dan si B-pun bercerita kepada si A kalau ia pernah bertemu dan mengobrol dengan orang yang namanya memang nama saya.

Adapun diantara keduanya, si A kini memutuskan untuk menjadi mualaf, jadi mualaf ataupun tidak menurut dia awalnya mungkin keluarganya tetap tidak akan menerimanya lagi, dan seandainya ia menjadi mualaf paling tidak ada satu orang yang bisa menerima kehadirannya, yaitu si B yang menjadi istrinya saat ini. Tapi ternyata apa yang terjadi melebihi apa yang ia duga, ia sudah bertemu dengan keluarganya, dan keluarganyapun tidak ada yang berkeberatan akan kepindahan agamanya keluarganya sudah kembali menerima kehadirannya, karena yang terpenting ia kini menjadi seorang lelaki yang baik. Sedangkan untuk si B sendiri, ia kini berusaha menjadi istri yang baik, bisa dibilang 100% dunia kelamnya ia tinggalkan, kini ia fokus untuk membimbing adik-adiknya dan menjadi pelayan setia suaminya, cara berpakaiannyapun sangat muslimah dengan hijab menutupi badannya.

Luar biasa, yang satu menjadi mualaf dan satunya taubatan nasuha. Allah memang telah menetukan untuk mereka yang baik pasangan yang baik. Kalau Allah sudah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin.

__________________________________________________________________________________________________

Akhir dari uraian tulisan kisah ini, saya ingin menyampaikan mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau sebetulnya tulisan ini hanyalah kisah fiktif karangan saya belaka. Tenang… tenang… semuanya diharap tenang dulu, jangan dulu pada protes ya. Heheheheeee…. saya tidak punya maksud negatif ko, saya hanya sedikit kembali belajar mengarang karena waktu sekolah dulu kalau disuruh mengarang nilai saya selalu kecil, tapi kalau disuruh ngebohong… hemmmmhhh… Wani Piro… ??? heheheheeee, padahal mana ada ya yang menyuruh berbohong. Dan saya juga benar-benar minta maaf atas acak kadutnya tulisan ini, jangankan kisahnya… tulisannya aja ancur banget. Sekali lagi pliiiiiiiiiiisssss… banget ya, Rosid minta maaf. Syukur-syukur sih karangan ini ada nilai manfaatnya, tapi kalau gak ada bejek-bejek aja deh,  terus dibuang deh tu ke tong sampah, jangan lupa sampahnya dibakar. Heheheeeee….

Ok, udah dulu ya sobat, terimakasih banyak banget udah mampir kemari. Sukses deh buat sobat-sobat…..

3 Malam dan 3 Pertemuan Written by: Rosid Rating: 4.8

Tentang Penulis

Comments

  1. Adinda Kania

    Gmna tuh cara bejek-bejek nya… ini kan di depan monitor, bukan dibaca dari buku ataupun ketas berlembar-lembar… masa harus dibanting2 ni monitor, trus dibuang gitu aja ke tong sampah… akhhh tidak.. hahaha

      1. Adinda Kania

        Ukh… tamatlah riwayatku dari peradaban di dunia maya ini klo monitornya harus di bejek-bejek…

        Akhirnya selesai juga bacanya!…
        jadi langsung bisa kebayang suasananya…
        Tulisanya bagus kok, ada referensi hadistnya juga!….

        nih dikasih jempol yah….

        1. Rosid Article Author

          Heuheuheuuuuuu…… membahayakan juga ya nih tulisan bisa membuat rusak monitor orang lain.

          Ok, makasih banyak ya sudah mau baca tulisannya. dan makasih juga atas jempolnya.

          :babyboy1

  2. andi sakab

    busyet ane bacanya sampe pelan-pelan saking serunya. ente berbakat ngarang, gan. ngarang bohong-bohongannya wkwkwk

    lanjutkan bos. karakternya kuat banget dan alur ceritanya berjalan mulus tanpa ada jalan rusaknya. sip. di tunggu novel terbarunya ya? :)

    1. Rosid Article Author

      Heuheuheuheuuuu…. penasaran dan harap-harap cemas ya, “Apa sih yang dilakuin neh bocah”. Xixixixixixixiiii…….

      :ngakak

      Biasa Om, ide buruk lagi nyasar kemari…. heheheee… makasih banyak ya Om udah mampir dan nyempetin baca, ya mudah-mudahan Allah terus ngasih ide buat kita untuk terus berkarya. Heheheheeeeee….

  3. BAGUSE-REK

    Saya kira pengalaman pribadi….Om Rosid.
    Jangan kebanyakan menghayal om…

    Wahai pemuda, bila kamu sdh mampu….

    Weh, g berani nerusinnya, maaf om.
    Salam takzim.

    1. Rosid Article Author

      Heheheheeeee….. tapi tenang Om, khayalannya engga negatif ko, ini lagi belajar aja bagaimana merangkai sebuah cerita. Kalau baca novel-novel atau cerpen-cerpen gitu kan kayaknya enaaaaaaak bener di bacanya, padahal kan ceritanya fiktif juga. :) Tapi kayaknya emang gak mungkin sih merangkai suatu cerita tanpa menghayal.

      Dan uniknya kadang ketika kita mengerjakan dan merangkainya gagasan-gagasan tambahan kadang suka muncul ditengah perngerjaan tersebut, termasuk sewaktu saya menulis fiksi ini. Heheheheeeee…

      Kalau masalah mampu belum mampu, jujur sih Om… belum, Heheheheeee….

      Makasih banget ya Om sudah mampir kemari, sukses Om..

      Salam…. :)

  4. herni

    herni pkir pengalaman pribadi… eh ternyata cuma karangan….
    heheheh

    ceritanya kena bgd, bgus deh… lanjutkan ! d tunggu karya berikutnya ^_^

    1. Rosid Article Author

      Heheheheeeee…. karangan iseng gak bermutu… :)

      Makasih banyak ya udah mampir dan nyempetin baca. Amiiinnn… mudah-mudahan diberikan ide atau gagasan yang lebih menarik lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>