Sawer Panganten

Sawer Panganten merupakan sebuah tradisi budaya masyarakat Sunda yang kental dan sarat akan nasehat dan do’a. Sawer Panganten atau yang biasa disebut dengan Nyawer, adalah upacara memberi nasehat pada kedua mempelai pasangan pengantin, dilaksanakan setelah acara akad nikah. Kedua orang tua mempelai menyawer mempelai dengan diiringi kidung. Biasanya, tempatnya di halaman rumah. Untuk menyawer, menggunakan bokor yang diisi uang logam, beras, irisan kunyit tipis, dan permen. Kedua mempelai duduk berdampingan dengan dinaungi payung, seiring kidung nasehat selesai di lantunkan, isi bokor di tabur, hadirin yang menyaksikan berebut memunguti uang receh dan permen. Upacara ini melambangkan mempelai beserta berbagi rejeki dan kebahagiaan.

Secara umum dalam kalimat sawer panganten, bagian pembuka (larik ke-1) /Bismillah ngawitan ngidung/ bermakna tentang permohonan ijin. Secara implisit juga mengajarkan tentang ajaran tauhid yaitu ke-Esaan Allah. Kata Bismillah adalah ungkapan yang digunakan penembang sebagai ciri bahwa dia akan memulai suatu kegiatan yang bernilai baik, maksudnya yaitu hendak membuka dan memulai sawer. Hal ini sesuai dengan kebiasaan kita pada umumnya ketika hendak melakukan suatu kegiatan.

Bagian isi (larik ke-6) /Hidep nalikeun duriat/ merupakan salah satu ajaran mengenai perintah untuk melaksanakan ibadah nikah yang ditujukan bagi kedua pengantin, merupakan ajaran yang bersumber dari Al-Quran dan hadist. Sebuah hadist yang membicarakan pernikahan yang merupakan salah satu cara untuk menyempurnakan agama.

Bagian penutup (larik ke-19) /Mugi Gusti nangtayungan/ berisi penguatan sugesti dari larik-larik sebelumnya dan simpulan dari isi yang disajikan. Bagian ini merupakan suatu permohonan/doa penutup yang ditujukan untuk kedua pengantin agar selalu ada dalam lindungan Allah.

Berikut ini merupakan contoh audio dan naskah sawer :

Tentang Penulis

Comments

  1. Ibro

    Mantab Kang… Penjelasan Sinareng Link Dongdotna..
    Eh Donloat wkwkwkk… Ngiring Nyimak tur Nyedot nya kang…
    Hidupkeunlah Budaya Indonesia supados teu di candakan
    ku nagara Asing…. Maju Teyus Kang Rosid…

  2. kang asep arie

    tah…muhun kitu kang, ulah dugikeun urang wirang ku paripaos “CUL DOG-DOG TINGGAL IGEL”, margi ieu salah sawios tina Jati diri hiji bangsa… Sok dilajeng ah…pangrojong ti abdi mugia katampi…. Sakantenan bade ngiring “ngundeur”…

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>